IPNews. Jakarta. Empat ratus mahasiswa dari 26 perguruan tinggi se Indonesia yang hadir dalam Kuliah Umum dan Launching Buku “The Art of Simple Leadership” di Garuda Ballroom Hotel Episode Serpong, Jumat (8/5/2-25) tampak terpana, berdecak kagum begitu mengetahui, Lo A Seng, ayah konglomerat Jerry Hermawan Lo ternyata seorang penjaja minyak keliling, dan ibunya, Lie Hui Moi adalah pedagang kue dan nasi uduk di sekitar Kampung Keling, Kota Medan.
“Apabila ingin sukses, kuncinya harus dapat memotivasi diri sendiri. Jangan bergantung pada motivasi pemberian orang lain. Nanti spirit untuk maju itu perlahan akan berkurang, selanjutnya hilang menguap. Proses lebih penting dari kesempurnaan. Perjalanan ribuan kilometer berawal dari sebuah langkah. Teruslah berproses dan melangkah. Sekecil apapun sangat berguna,” pesan Jerry Hermawan Lo kepada para mahasiswa.
Usai memberikan kuliah umum, dengan dipandu moderator, Tri Agung Kristanto, Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas, Jerry Hermawan Lo berdialog dengan para mahasiswa.
Hadir dalam acara itu Menpora Erick Thohir, Komjen Pol (Purn) Mochamad Iriawan alias Iwan Bule, Letjen TNI (Purn) Ganip Warsito dan Letjen TNI (Purn) Joni Supriyanto.
Meskipun putus sekolah, tak tamat sekolah dasar, ia memang dekat dengan kalangan mahasiswa. Sering memberikan kuliah umum di berbagai universitas di Indonesia saat menyalurkan bantuan bea siswa bagi mahasiswa pertanian, melalui Yayasan Merah Putih Kasih, yang didirikannya tahun 2015. Visi dan misi besarnya mencetak 1.200 sarjana pertanian.
Seperti halnya Yap Thiam Hien, John Lie, darah aktifis pergerakan nasionalis mengalir dalam urat nadi seorang Jerry Hermawan Lo. Maka tak heran pada tahun reformasi 1998, ia membentuk Forum Persaudaraan Anak Bangsa (F-PAB), sebuah organisasi sosial kemasyaratan, sebagai wadah pemersatu lintas etnis, agama, dan golongan yang memperjuangkan hak-hak sipil masyarakat etnis Tionghoa yang mengalami diskriminasi pada era orde baru. Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) yang berlaku bagi keturunan etnis Tioanghoa dan non pribumi lainnya berkat perjuangan F-PAB, akhirnya dihapuskan berdasarkan Intruksi Mendagri No. 25 Tahun 1998.
Gedung cagar budaya Candra Naya komunitas Tionghoa, yang terletak di Jalan Hayam Wuruk, Kota Jakarta dapat bertahan kokoh hingga kini, lantaran perjuangan F-PAB yang dipimpin Jerry Hermawan Lo yang gigih melawan ketika hendak digusur. Ia memang seorang pluralisme, yang mengakui keragaman adalah fakta sosial yang tidak bisa dihindari.
“Masyarakat Indonesia yang majemuk harus hidup berdampingan secara damai meskipun berbeda latar belakang budaya dan agama” tukasnya. Itu sebabnya ia memiliki kawan dari berbagai kalangan, lintas partai, organisasi dan agama.
Tidak Lahir di Ranjang Emas
Jerry yang lahir di Medan 22 November 1957 itu – sejak kecil ikut membantu sang ibu menjajakan kue keliling kampung. Pada sekitar tahun 1968, tatkala tengah rehat menjajakan kue – masih kuat dalam ingatannya, ia duduk di bawah pohon palem sebuah taman. Jerry kecil memandang penuh takjub kemegahan rumah dinas Marah Halim Harahap, Gubernur Sumatera Utara waktu itu, yang terletak di Kawasan elite Polonia, Jalan Sudirman Anggrung. Sembari dalam hati muncul tekad kuat memotivasi diri, kelak harus punya rumah besar. Enam puluh delapan tahun kemudian, kakek dari 12 cucu dan 2 cicit itu, kini telah memiliki rumah di bilangan BSD Serpong, Tangerang Banten, yang jauh lebih mewah dari kediaman Gubernur Sumatera Utara yang dulu dikaguminya. Ia sudah punya segalanya. Termasuk menjadi owner puluhan hotel dan property yang tersebar di berbagai kota.
Benar kata orang bijak. Masa depan adalah kumpulan dari ketidakpastian. Malahan satu-satunya hal yang pasti mengenai masa depan adalah ketidakpastian itu sendiri. Akan tetapi suatu keputusan bisa sangat menentukan dapat mengubah jalan hidup. Bila saja Jerry Hermawan Lo tidak nekat berangkat ke Jakarta pada saat ulang tahun kota Jakarta, 22 Juni 1973 itu, mungkin jalan hidupnya tidak akan berubah seperti sekarang. Padahal saat itu ia hanya berbekal tiket kapal laut dan mimpi besar, yang memungkinkan seseorang untuk melihat peluang yang tidak terlihat sebelumnya.
Hidup di Ibukota yang menurut pameo katanya lebih kejam dari ibu tiri, ia kerja serabutan. Pernah menjadi kuli bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, kondektur bus, hinggga pencuci mobil. Pokoknya, apapun dilakukannya agar dapat menghasilkan uang sekedar untuk makan. Tradisi kerja keras sejak kecil membuatnya pantang menyerah menghadapi kerasnya persaingan Kota Metropolitan. Kerja keras adalah budaya hustle yang menekankan ketekunan, dedikasi tinggi, dan usaha maksimal untuk mencapai tujuan. Dalam dunia yang penuh kompetitif, produktivitas dijunjung tinggi dan budaya gila kerja cenderung diapresiasi.
Bercermin dari masa kecilnya yang serba sulit, Jerry memutuskan tekat bahwa dirinya harus bangun dan berjuang sendiri jika ingin mengubah nasib. Dengan pendidikan formal yang terbatas, ia justeru mengandalkan Life University, sekolah kehidupan. Belajar dari setiap pengalaman jatuh bangun.
Sejak masa kanak-kanak hidupnya serba sulit. Penuh keterbatasan. Lalu berubah menjadi pengusaha suskes dengan puluhan bisnis di berbagai bidang di bawah bendera JHL Group. Jerry Hermawan Lo membangun portofolio bisnis yang luas. Mulai dari jaringan hotel JHL Collections, otomotif, pertambangan, media dan terakhir merambah agrobinis, membangun pabrik pengolahan kelapa terpadu memakai bendera PT Dewa Agricoco Indonesia, dengan target produksi 3 juta butir per hari. Semua itu bisa terwujud lantaran ia berani menantang nasib dan kehidupan.
Kata Kunci, Art dan Simple
The Art of Simple Leadership sebuah buku setebal 361 halaman, diterbitkan Penerbit Buku Kompas, PT. Kompas Media Nusantara. Ditulis olehdr. Steven Beteng, M.M, dikenal sebagai seorang konsultan bisnis senior, mentor dan penulis yang aktif di Indonesia, yang juga sahabat Jerry Hermawan Lo.
Sebelumya ia menulis buku biography pendiri JHL Group itu berjudul Life University.
Meminjam catatan penulis, dalam buku The Art of Simple Leadership terdapat dua kata kunci: art dan simple, yang tepat untuk menggambarkan sosok seorang Jerry Hermawan Lo. Art, lantaran kepemimpinan Jerry tidak sekadar dijalankan. Melainkan dikerjakan dengan sentuhan khas seorang seniman – penuh ketajaman intuisi, kaya imajinasi, dan penuh kreativitas. Simple, lantaran cara-cara yang ia lakukan amat sederhana, bersahaja, tidak rumit atau berbelit-belit, membumi dan bisa dipraktikkan siapa saja. Kesederhanaan adalah kekuatan. Seni memimpin dengan sederhana secara fundamental menantang pandangan konvensional bahwa seorang pemimpin hebat harus memiliki kecerdasan luar biasa, gelar tinggi, atau menguasai banyak teori. Dari memimpin tim kecil hingga membangun perusahaan besar ia selalu menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan perkara rumit. Melainkan soal konsistensi, ketulusan dan keberanian mengambil keputusan.
Sepertinya benar apa yang dinyatakan Great Man Theory. Pemimpin yang luar biasa seperti Jerry Hermawan Lo itu lahir dengan sifat-sifat khusus yang menjadikannya pemimpin yang sukses. Dalam teori ini, kepemimpinan dianggap sebagai bakat bawaan dan hanya dimiliki oleh individu yang “istimewa”. Pemimpin yang efektif memiliki sifat kepribadian tertentu, seperti kecerdasan, karisma, integritas, dan kemampuan komunikasi yang baik. (Red)

