IPNews. Jakarta. Kementerian Agama (Kemenag) mendorong optimalisasi balai latihan kerja (BLK) di lingkungan pesantren untuk membekali santri dengan keterampilan. Fasilitas yang telah tersedia di ribuan pesantren itu diharapkan kembali berfungsi sebagai tempat pelatihan, sehingga santri memiliki lebih banyak bekal untuk bekerja atau membangun usaha setelah lulus.

Direktur Jenderal Pesantren Kemenag Basnang Said mengatakan, keberadaan BLK merupakan peluang untuk memperkuat pendidikan vokasi di pesantren. Karena itu, ia ingin fasilitas tersebut dimanfaatkan sesuai tujuan awalnya, yakni sebagai ruang bagi santri untuk belajar dan berlatih.

“Kita kembalikan BLK ke khitahnya, yakni pusat latihan kerja para santri. Sebab sekarang ada beberapa BLK yang berubah jadi asrama ada juga yang jadi kantor pesantren,” kata Basnang. (27/10)

Menurut dia, BLK yang berada di lingkungan pesantren perlu benar-benar digunakan untuk melatih santri. Dengan begitu, fasilitas yang telah dibangun dapat memberikan manfaat langsung bagi mereka.

Basnang mengatakan, penguatan keterampilan penting menjadi penting karena setelah lulus, santri akan berhadapan dengan beragam pilihan. Ada yang melanjutkan pendidikan, mengabdi di pesantren, bekerja di berbagai bidang, maupun merintis usaha sendiri.

Setiap pilihan tersebut membutuhkan bekal yang berbeda. Santri yang ingin bekerja, misalnya, perlu mengenali jenis pekerjaan yang tersedia dan keterampilan yang dibutuhkan. Sementara itu, mereka yang ingin berwirausaha membutuhkan kemampuan untuk mengembangkan produk, mengelola usaha, dan menjangkau pasar.

BLK, kata Basnang, membuat santri berkesempatan mengenal dan mempraktikkan keterampilan sejak masih berada di lingkungan pendidikan. Saat lulus, mereka tidak hanya membawa pengetahuan yang diperoleh selama belajar, tetapi juga pengalaman yang dapat dikembangkan sesuai minat dan kebutuhan.

“Kita ingin memastikan fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperluas bekal dan pilihan masa depan santri,” kata Basnang.

Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Irfan Asy’ari Sudirman Wahid atau Gus Ipang Wahid mengatakan, penguatan pendidikan vokasi perlu berjalan seiring dengan pengembangan kapasitas spiritual dan intelektual santri. Ketiganya menjadi bekal penting agar santri memiliki keterampilan sekaligus kemampuan untuk memahami perubahan dan menjaga nilai-nilai yang dipelajari di pesantren.

“Santri membutuhkan tiga bekal. Yakni, spiritual yang kuat, kemampuan intelektual yang terus berkembang, dan keterampilan vokasional yang relevan dengan kebutuhan zaman. Ketiganya harus berjalan bersama agar santri memiliki lebih banyak pilihan untuk menentukan masa depannya,” kata Ipang.

Pengembalian fungsi BLK menjadi salah satu program turunan dari Ditjen Pesantren yang berkolaborasi dengan PBNU. Sebelumnya, kerjasama dua lembaga tersebut telah melahirkan 5 program prioritas. Yakni, Satgas Santri, Rekognisi Ijazah, Pesantren Adaptif dan Mandiri, Santri 5.0, dan Dakwah Digital. (JP/BS)