IPNews. Jakarta. Fenomena di balik hiruk-pikuk Pasar Seni Ancol yang tak pernah tidur, dua perupa yang lebih akrab disapa kawan ngopi ketimbang nama besar galeri, hadir dengan sebuah pernyataan jujur. Nanek dan Bang Black mempersembahkan pameran bersama bertajuk “Pura-Pura Rupa” di Nort Art Space. Pameran ini bukan sekadar kolaborasi, melainkan sebuah dialog paralel antara ingatan kolektif budaya Betawi dan dinginnya kaca pencakar langit Jakarta.

Kurator pameran, Joko Kisworo, dalam catatan kuratorialnya menyebut pameran ini sebagai “sebuah usaha rendah hati untuk menghadirkan rupa di tengah keterbatasan formal”.

Istilah “Pura-Pura Rupa” dipilih sebagai tameng sekaligus pengakuan bahwa melukis bagi mereka adalah soal pulang ke ingatan dan mencatat getaran kota, bukan sekadar pertarungan wacana seni kontemporer.

Dua Suara dalam Satu Ruang Tamu: Betawi yang Hangat vs Urban yang Ekspresif.

Pameran ini menghadirkan dua kutub visual yang berbeda namun saling mengisi:

1. Nanek – Menjahit Atmosfer Betawi yang Jujur

Nanek, perupa otodidak, menampilkan karya seperti “Nglaras”,
“Ngerumpi”, dan “Tanjidor”. Goresannya mengabaikan presisi anatomi demi mengejar hawa panas arak-arakan dan kebisingan yang menjelma irama. Kurator Joko Kisworo menyebutnya sebagai “kehangatan antropologis yang jujur”, sebuah antitesis dari kedinginan galeri modern. Karyanya bagaikan mendengar dongeng nenek: ada yang lupa, ada yang dilebihkan, namun selalu terasa benar adanya.

2. Bang Black – Membangun Jiwa dari Reruntuhan Presisi

Berlatar belakang arsitek, Bang Black justru mendekonstruksi presisi dalam kanvas “Atrium”, “Metropolitan”, dan “Pencakar Langit”. Gedung-gedungnya tidak kaku, melainkan bernapas dan bergoyang diterpa ambisi. Sementara dalam “Bersama tidak harus sama”, ia menangkap keagungan Masjid Istiqlal yang seolah menarik diri dari riuh rendah cityscape. Karyanya adalah rekaman kecemasan dan kecepatan, bukan sekadar sketsa bangunan.

Catatan Kritis untuk Masa Depan: Dari Kenangan Menuju Arkeologi Jiwa

Dalam catatannya, Joko Kisworo memberikan bekal kritis untuk perjalanan kedua seniman ini. Bagi Nanek, tantangannya adalah masuk ke relung yang lebih gelap dari tradisi: kehilangan dan ironi budaya. Sementara bagi Bang Black, ia dinanti untuk tidak hanya melukis gedung, melainkan melukis kebijakan tata ruang dan kesenjangan di kaki lima.

Panggilan untuk Menjadi Empunya Sejarah

Lebih dari sekadar catatan teknis, kuratorial ini menjadi pengingat bahwa Nanek dan Bang Black berpijak di tanah bersejarah, tanah tempat Affandi, S. Sudjojono, dan Basuki Abdullah pernah berdebat secara estetis. “Kalian tidak sedang berkarya di ruang hampa. Kalian berdiri di pundak raksasa,” tulis Joko Kisworo. Pameran ini ditegaskan bukan sebagai puncak karier, melainkan gerbang menuju wacana seni rupa yang lebih luas.

Detail Pameran:

· Judul: Pura-Pura Rupa
· Perupa: Nanek & Bang Black
· Kurator: Joko Kisworo

Tentang Pameran:

“Pura-Pura Rupa” adalah pameran tunggal berdua yang mempertemukan dua sudut pandang dari studio yang hanya berjarak sepuluh langkah di Pasar Seni Ancol. Ini adalah undangan untuk melihat Jakarta dari beranda rumah kayu dan dari balik kaca gedung tinggi secara bersamaan. (Red)