Horor di Dunia Perkuliahan: Lima Ketakutan Nyata Mahasiswa dan Cara Menghadapinya
oleh Muhammad Rafi Suryaramadhan
Bagi banyak mahasiswa, dunia perkuliahan kerap terasa seperti “dunia horor” versi modern. Bukan karena hantu atau makhluk gaib, melainkan karena tekanan akademik, tuntutan sosial, dan kecemasan akan masa depan yang datang bersamaan. Kampus menjadi ruang tumbuh, tetapi juga medan uji mental: deadline menumpuk, presentasi mendadak, dosen yang terasa “killer”, hingga rasa takut tertinggal dari teman-teman.
Berikut lima hal yang paling menakutkan dalam dunia perkuliahan—beserta cara menjinakkannya.
1. Deadline yang Menumpuk

Tugas yang datang bersamaan, jadwal presentasi berdekatan, dan ujian di minggu yang sama sering membuat mahasiswa kehabisan napas. Banyak yang begadang, kehilangan waktu istirahat, bahkan merasa gagal sebelum mencoba. Padahal, ketakutan ini sering muncul bukan karena tugasnya terlalu berat, melainkan karena belum terbentuknya sistem kerja yang rapi.
Solusinya bukan sekadar “lebih rajin”, melainkan membangun manajemen waktu. Pecah tugas besar menjadi bagian kecil, buat kalender akademik pribadi, dan mulai lebih awal. Ketika beban dipecah menjadi langkah-langkah kecil, deadline berubah dari ancaman menjadi ritme kerja yang terukur.
2. Rasa Tertinggal dari Teman

Media sosial dan lingkungan kampus kerap menampilkan versi “paling berhasil” dari orang lain: teman yang aktif organisasi, magang di perusahaan besar, menang lomba, atau tampak selalu produktif. Dari situ lahir overthinking: “Aku ketinggalan jauh nggak?” atau “Aku salah jurusan?”
Perlu disadari bahwa setiap mahasiswa memiliki garis waktu yang berbeda. Dunia perkuliahan bukan lomba sprint, melainkan maraton. Membandingkan diri tanpa konteks hanya akan menguras energi. Yang lebih sehat adalah menetapkan tujuan personal, mengenali kapasitas diri, dan fokus pada progres kecil. Bertumbuh pelan bukan berarti gagal.
3. Presentasi dan Public Speaking

Berbicara di depan kelas menjadi momok banyak mahasiswa. Tangan dingin, suara gemetar, pikiran kosong—semua seolah ritual wajib sebelum maju. Rasa takut ini sering disalahartikan sebagai tanda ketidakmampuan. Padahal, kecemasan berbicara di depan umum adalah reaksi alami tubuh terhadap situasi yang dianggap “berisiko”. Ia bisa dilatih. Mulai dari latihan kecil: berbicara di depan teman, merekam diri sendiri, aktif bertanya di kelas. Semakin sering mencoba, tubuh akan belajar bahwa situasi ini aman.
4. Dosen yang Terasa “Killer”

Sebutan “dosen killer” sering muncul karena gaya mengajar yang tegas, tuntutan akademik tinggi, atau cara komunikasi yang kaku. Mahasiswa lalu membangun jarak dan rasa takut berlebihan, sehingga enggan bertanya dan cenderung pasif.
Pendekatan yang lebih dewasa adalah melihat dosen sebagai mitra belajar. Menyiapkan pertanyaan, bersikap profesional, dan memahami ekspektasi sejak awal dapat mengurangi ketegangan. Sering kali, yang terlihat “menakutkan” hanyalah standar akademik yang memang menuntut kedisiplinan.
5.Ketidakpastian Masa Depan

Pertanyaan “setelah lulus mau jadi apa?” adalah horor yang sunyi. Ia tidak muncul di ruang kelas, tetapi di kepala. Ketakutan ini bisa melumpuhkan, membuat mahasiswa merasa salah langkah sejak dini.
Menghadapi ketidakpastian bukan berarti harus memiliki jawaban final sekarang. Yang penting adalah bergerak: mencoba magang, mengikuti komunitas, mengeksplor minat. Masa depan dibentuk melalui proses, bukan ramalan instan.
Dunia perkuliahan memang penuh tekanan. Namun, “menyeramkan” bukan berarti harus dihindari. Justru dari ketegangan itulah mahasiswa belajar mengelola waktu, emosi, dan ekspektasi. Horor di kampus tidak akan hilang sepenuhnya, tetapi bisa dijinakkan. Dengan strategi yang tepat, dukungan sosial, dan kesadaran bahwa semua orang sedang berjuang, kampus tidak lagi terasa menakutkan—melainkan menjadi ruang tumbuh yang bermakna.
Tentang Penulis:
Nama: Muhammad Rafi Suryaramadhan
Institusi: BINUS University
Program Studi: Digital Media Communication (Mass Communication)
Minat: Film, Musik, dan Seni Kreatif
Aktivitas: Penyiar Radio Kampus
Muhammad Rafi Suryaramadhan merupakan mahasiswa BINUS University jurusan Digital Media Communication yang memiliki ketertarikan kuat pada dunia seni, khususnya film dan musik. Selain aktif sebagai penikmat karya kreatif, ia juga terlibat langsung dalam praktik media sebagai penyiar radio kampus. Melalui aktivitas tersebut, Rafi mengembangkan kemampuan komunikasi, penyiaran, serta produksi konten, sekaligus menyalurkan minatnya dalam dunia kreatif dan media digital.

